Setiap mahasiswa pada akhir studinya akan mengikuti prosesi Wisuda. Sebagai suatu aktifitas sakral dalam suatu pendidikan tinggi, wisuda menjadi moment berharga buat para mahasiswa yang telah menyelesaikan studinya. Juga para orang tua dan keluarga tersayang akan ikut merasa bangga dan gembira atas selesainya masa studi putra, saudara atau yang dikasihinya.

Belakangan, mungkin dengan kebesaran nama dan gegap gempitanya prosesi wisuda itu, lembaga-lembaga pendidikan yang bukan perguruan tinggi pun ikut-ikut melaksanakan kemeriahan pelepasan para siswanya dengan suatu kegiatan yang bernama wisuda. Juga, uniknya dengan seperangkat pakaian kebesaran berbentuk jubah dan toga di kepala. Nampaknya, wisuda sudah menjadi bagian kemegahan yang sakral bagi kalangan pendidikan. Karena khabar terakhir pun, sering terlihat bahwa anak TK atau PAUD pun juga diwisuda.

Di antara sedemikian kehebatan ritus wisuda itu, seringkali mereka para mahasiswa hanyut dalam kegembiraan, terlena oleh ”prestasi” nya ketika mereka menyelesaikan tanggung jawab studi yang diberikan orang tua. Kadang juga kerap sebagai ajang pembuktian pada orang tua dan lingkungan tetangga, bahwa ia berhasil lulus. Entah dengan cukup memuaskan, memuaskan, atau sangat memuaskan. Tidak peduli, yang penting hari ini diarak oleh prosesi menuju panggung pemindahan kuncir oleh rektor.

Kadang kala pula, saking senangnya, di antara wisudawan itu lupa bahwa ia masih punya utang biaya KKN, lupa bahwa skripsi belum dijilid, bahkan pernah dijumpai lupa revisi skripsi atau tugas akhirnya. Yang lebih antik lagi, lupa bahwa dia ikut wisuda itu dengan jalan dispensasi. Entah dispensasi revisi skripsi, daftar dulu revisi kemudian, atau dispensasi biaya. Uniknya lagi, karena sudah terhipnotis kegegapgempitaan wisuda itu ia lupa, bahwa ijasah belum diambil sampai setahun karena merasa sudah wisuda dan merasa sudah membereskan semua tanggungannya pada kampus.

Saya membuat sketsa itu hanya untuk menunjukkan bagaimana wisuda seringkali dianggap moment wah yang seringkali melenakan dan melupakan wisudawan. Lho, memang ada apa sebenarnya dengan penyikapan wisuda? Apakah ada yang salah dalam memaknai dan mengapresiasinya?. Tidak ada yang salah dalam menyikapi setiap momen berharga yang kita lalui. Momentum harus dirayakan, harus dirasakan, bahkan harus diabadikan dalam bingkai emas yang indah. Momen kelahiran, momen kelulusan, momen pernikahan dan bahkan momen kematian sudah selayaknya ditempatkan sesuai proporsinya dalam sisi kehidupan setiap manusia. Artinya waktunya suka ya kita nikmati, waktunya susah ya harus prihatin dengan kesusahannya. Demikian pula, waktunya tidak ada momentum pun, sebagai seorang manusia sudah selayaknya menciptakan momen-momen untuk dirasakan.

Bukan salahnya menikmati wisuda dengan merayakannnya berikut suka cita. Wisuda harus dinikmati. Namun tidaklah perlu seorang wisudawan terlena dengan kegegapgempitaannya. Nikmatilah secukupnya, bersyukur atas nikmat Allah yang dikaruniakan, dan berterimakasih pada setiap anak manusia yang telah membantu kelulusan dan kesarjanaan, siapa pun dia.

Wisuda sebagai seremoni pengukuhan gelar kesarjanaan membawa makna luhur untuk diambil hikmahnya, yakni penyadaran bahwa para wisudawan telah selesai menempuh studi sesuai bidang keahliannya dan tantangan bahwa para wisudawan mulai mengabdikan ilmunya untuk masyarakat. Masyarakat pun diberikan deklarasi oleh pihak kampus, bahwa si A atau Si B telah menjadi sarjana dan siap untuk diabdikan tenaganya demi kepentingan masyarakat banyak.

Demikian pula, seorang mahasiswa yang selama hidupnya sampai wisuda biaya hidup dan biaya sekolah minta orang tua. Semenjak detik wisuda sudah seharusnya menjadi insan mandiri, baik dalam biaya hidupnya maupun menghidupi orang lain. Oleh karenanya, wisudawan sudah selayaknya bekerja. Bukan sekedar berpikir bekerja. Ia harus bisa membuktikan pada keluarga mengenai kapasitas dirinya yang dapat bekerja dengan orang lain, atau bahkan membuka lapangan kerja.

Tidak selayaknya seorang sarjana yang untuk diwisuda itu butuh proses waktu dan pengorbanan biaya yang tidak sedikit kemudian menjadi penganggur yang membebankan keluarga. Harus inovatif dan kreatif dalam menjalani kehidupan, itulah sarjana trampil.

Di antara lapangan pekerjaan yang sedemikian tidak seimbang dengan pencari kerja, hal ini menjadi tantangan yang berat buat para sarjana. Kadangkala, ada suatu pekerjaan tertentu, tapi karena levelnya bukan untuk sarjana sehingga merasa tidak layak untuk dimasuki. Tapi juga, seringkali ditemui walau suatu pekerjaan itu bukan untuk levelnya, dengan alasan rejeki maka terpaksa diambil pula lowongan itu.

Saya di sini tidak bermaksud membuat suatu klasifikasi pekerjaan. Karena memang betul, kerja adalah kerja yang kaitannya dengan mencari nafkah dan menuntut ilmu adalah menuntut ilmu. Ya, itu memang betul. Tapi bukankah akan lebih bermanfaat bila ilmu itu diamalkan ditempat yang sesuai dengan ilmu kita.

Nah, sampai di sini apakah masih ada nuansa terlalu melenakan gelar kesarjanaan?. Bagi mereka para sarjana ”kelas kambing” tentu akan langsung sedih dan meratap, gelap meneropong masa depan. Melihat dirinya tidak punya kapasitas, IP pas pasan plus tidak ada ketrampilan. Namun beda lagi dengan mereka sarjana ”kelas tanding”, akan lebih bersemangat dalam melangkah masa depan. IP tinggi, ketrampilan mumpuni, jaringan kuat dan pintar berkomunikasi merupakan modal cukup untuk memulai perjuangan kehidupan. Kerja profesional oke, mandiri pun siap.

Akhirnya, wisuda sudah selayaknya diletakkan dalam starting point pembuktian kehidupan seorang sarjana. Ia bukan semata akhir penempuhan studi namun adalah tonggak awal kehidupan yang penuh tantangan.

Previous articleUnisda Jadikan Pagar Nusa UKM di Kampus
Next articleDari Kesadaran hingga Kritik Pengurusan bagi Merek