Pendahuluan

Allah SWT menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya adalah untuk didayagunakan sebaik-baiknya demi kemakmuran dunia, dikelola menurut hukumNya, dan hendaknya mengacu pada ketentuanNya dalam al Qur’an dan as Sunnah. Manusia sebagai salah satu penghuni bumi, diberikan mandat oleh Allah untuk mengurusi dan mengelola isi alam semesta ini dengan sebaik-baiknya sebagai khalifatullah di muka bumi.

Ciptaan Allah beserta segala isinya itu dilengkapi dengan manual prosedur (hukum-hukum Allah) agar supaya dapat didayagunakan semaksimal mungkin, dimanfaatkan sedemikian rupa sesuai peruntukannya, serta dapat berumur panjang sehingga maslahatnya lebih optimal. Namun apabila manual prosedur itu tidak dipakai atau dikesampingkan, maka tentu saja sistem alam semesta menjadi kacau, tidak terjadi keseimbangan sistem dan ujung-ujungnya adalah kerusakan alam semesta. Firman Allah menyatakan: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar rum:41).

Di antara isi dunia yang diciptakan Allah itu adalah sumber daya energi yang terdiri dari bermacam-macam bentuk yakni tambang minyak, batubara, gas alam, kekuatan aliran air, kekuatan gelombang laut, kekuatan energi surya dan sebagainya. Yang kesemuanya itu dapat diubah bentuknya menjadi energi yang menggerakkan mesin-mesin dan sarana produksi serta sarana transportasi ummat manusia.

Aset sumber daya yang dititipkan Allah kepada manusia itu ada yang bisa habis (tidak dapat diperbarui) ada pula yang tidak dapat habis (dapat diperbarui). Oleh karena itu manusia harus pandai-pandai memanfaatkannya, agar optimal dan bertahan lama. Perlu diwaspadai bersama, di era mutakhir ini sudah mulai terjadi gejala-gejala alam yang tidak biasa semacam perubahan iklim, baik itu terwujud dalam badai besar, curah hujan yang tidak stabil, pemanasan global dan sebagainya. Belum lagi, saat kita dihadapkan pada krisis energi, yang ditandai dengan semakin menipisnya cadangan minyak, harganya yang tinggi padahal energi lain yang diharapkan menggantikan minyak belum ditemukan atau masih belum dapat diproduksi massal.

Oleh karena itu, dalam pemanfaatan energi saat ini dan di masa datang ummat manusia harus dapat memperlakukan alam dengan sebaik-baiknya, mengambil secukupnya, memperbarui sebisanya, demi kelestarian ekologis dalam sistem peri kehidupan dunia untuk anak cucu nanti.

Konsumsi dan Pemanfaatan Energi sebagai Bentuk Konsumsi

Pemakaian atau penggunaan manfaat dari barang dan jasa merupakan kegiatan konsumsi. Sehingga konsumsi merupakan tujuan yang penting dari produksi, tetapi tujuan utamanya adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup seseorang. Islam adalah agama komprehensif yang ajarannya mencakup seluruh aspek kehidupan, baik pengaturan tingkah laku manusia, maupun aspek moral dan etika. Islam mengatur sedemikian detil hal-hal kecil, semacam halal-haram, najis-suci dan sebagainya. Sehingga hal ini yang membedakan kesempurnaan Islam dibanding sistem kemasyarakatan manapun, baik modern atau lama, termasuk dalam hal ini konsumsi.

Konsumsi tentu tidak hanya berkaitan dengan makanan, karena konsumsi terkait juga dengan pemanfaatan barang dan jasa. Oleh karenanya pemanfaatan energi untuk memenuhi kebutuhan manusia juga merupakan bentuk konsumsi itu sendiri.

 

Hemat Energi, Lingkungan Hidup dan Kemaslahatan Hidup

Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai kekayaan yang luar biasa. Di antara kekayaan itu adalah, hamparan tanah sawah dan perkebunan, sungai dan lautan beserta isinya, gunung-gunung yang masih aktif, pusat-pusat tambang perut bumi, potensi hutan yang amat besar, dan didukung oleh kuantitas sumberdaya manusia yang besar. Semua adalah rahmat dan karunia Allah pada bangsa Indonesia untuk didayagunakan sebesar-besar kemakmuran rakyatnya.

Eksploitasi terhadap tambang, hutan dan sumberdaya air yang sedemikian luas, akan sangat mengkhawatirkan manakala tidak diimbangi dengan pengelolaan yang sesuai dengan asas kemanfaatan seluruh rakyat dan asas pelestarian lingkungan hidup.

Melalui pemanfaatan SDA yang cerdas dan berwawasan lingkungan, diharapkan dapat mencapai kemaslahatan hidup yang sesungguhnya. Yakni suatu kehidupan masyarakat yang adil makmur dan sejahtera. Allah SWT berfirman: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmatan lil’alamiin” (QS. 21 : 107). Pandangan hidup ini mencerminkan pandangan yang holistis terhadap kehidupan kita, yaitu bahwa manusia adalah bagian dari lingkungan tempat hidupnya. Sekaligus manusia merupakan pemegang mandat pemakmur bumi.

Namun manusia pula sebagai pembuat kekacauan bumi, sebagai akibat perbuatan nafsu rakus dan boros anak manusia, yang sebenarnya oleh Allah telah diingatkan dalam firmanNya: “Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah membuat kerusakan di muka bumi”, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (QS. 2 : 11).

Keingkaran manusia tersebut menimbulkan bencana alam dan kerusakan di bumi sebagaimana firmanNya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Katakanlah : “Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS. 30 : 41-42).

Tanda-tanda kebenaran firman Allah telah dapat dibuktikan dalam fakta banyaknya terjadi bencana alam, kekeringan, banjir, tanah longsor, air yang tercemar, bahan bakar yang menipis dan lain-lain.

Oleh karenanya manusia sudah seharusnya kembali instrospeksi, konsolidasi, dan menata kembali budaya yang memperkosa alam dengan pemborosan SDA menjadi budaya yang dianjurkan oleh sang pembuat alam semesta beserta manual prosedurNya. Termasuk upaya sederhana yang berdampak besar yakni berhemat dalam mengkonsumsi apapun termasuk listrik, BBM dan Air. Wallahu A’lamu.