Pendahuluan

Pada hari itu, sabtu tanggal 16 Rajab 1421 H, bertepatan dengan tanggal 14 Oktober 2000 di Surabaya telah didirikan Asosiasi Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (Aptinu). Asosiasi ini bertujuan untuk melaksanakan kerjasama dalam bidang Pendidikan, Penelitian, Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Kegiatan-kegiatan lain pengembangan kelembagaan.

Sesuai dengan namanya, Asosiasi ini berfokus pada pengembangan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU). Ada beberapa alasan mengapa Aptinu terbentuk ketika itu, yakni: pertama, persaingan yang amat kompetitif antar perguruan tinggi, dimana sudah tidak ada batasan antara negeri dan swasta, antara kampus perkotaan dan daerah pinggiran, antara kampus nasionalis dan religius, semua telah bermain dalam ruang yang sama; kedua, mulai masuknya modal asing terhadap dunia pendidikan dan mulainya era komersial dalam dunia pendidikan sehingga banyak perguruan tinggi telah ditata sedemikian rupa sehingga menyerupai suatu desain corporate yang rapi; ketiga, adanya perkembangan yang menuntut dunia pendidikan menyesuaikan dengan standar pendidikan yang berlaku didunia internasional, semacam ISO yang kemudian berimplikasi pula pada dunia pendidikan Indonesia yang mau tidak mau harus melakukan standarisasi nasional terhadap pengelolaan pendidikan; keempat, adanya perkembangan teknologi informasi yang sedemikian cepat sehingga proses pengelolaan dan pelayanan dalam dunia pendidikan harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman; kelima, adanya suatu gejala bahwa banyak kampus PTNU yang kehilangan marketnya serta menurunnya performa PTNU; keenam, perhatian NU secara organisasi kepada dunia pendidikan masih lemah sehingga banyak lembaga pendidikan NU, khususnya perguruan tinggi tidak diperhatikan; ketujuh, tidak adanya mekanisme advokasi dan jaringan yang kuat dalam rangka positioning PTNU dengan PT yang lainnya; kedelapan, belum adanya perhatian khusus terhadap penyiapan calon-calon kader NU dilingkungan PTNU.

Pada sisi yang lain hubungan komunikasi antar PTNU yang masih lemah juga mengakibatkan persoalan yang dihadapi oleh banyak PTNU seolah hanyalah menjadi persoalan-persoalan internal masing-masing PTNU, bukan merupakan persoalan komunitas PTNU. Hal ini menyebabkan, kurang adanya sinergitas pengembangan PTNU, sehingga yang terjadi adalah ada yang tidak terurus dan ada yang melenggang maju terus. Maka, menjadi urgen sekali keberadaan Aptinu yakni untuk: pertama, menyamakan persepsi dalam pengembangan PTNU; kedua, identifikasi potensi, persoalan, peluang dan tantangan pengembangan PTNU; ketiga, antisipasi terhadap dampak kebijakan pemerintah terhadap PTNU; kelima, sebagai pusat kajian dan informasi mengenai masalah-masal yang terjadi, sekaligus kegiatan-kegiatan penting yang harus dilakukan untuk pengembangan PTNU; keenam, sebagai suatu kolaborasi bersama agar ada integrasi perhatian dari PTNU, LP Maarif dan PTNU itu sendiri.

Namun dalam perjalanannya, Aptinu yang bukanlah suatu organisasi resmi dalam NU. Hal ini tentu menjadikan Aptinu hanyalah seolah forum perkumpulan biasa, yang tidak ada hubungan strulktural apapun dengan NU, sehingga keinginan dari banyak kalangan agar PBNU lebih memperhatikan dunia kampus nyata-nyata tidak ada respon dilapangan.

Oleh karenanya, pada Muktamar NU 2010 di Makassar telah dimasukkan Lajnah baru yang bernama Lajnah Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama. Sebagai upaya untuk mempercepat akselerasi baik secara organisasional, material, jaringan, maupun aksi. Hal ini hanya melengkapi dan memperkuat saja terhadap latar belakang masalah berdirinya Aptinu.

 

Pengembangan PTNU dalam analisa SWOT

Dalam perkembangannya hingga LPTNU telah dan sedang berupaya untuk menyelesaikan masalah-masalah PTNU. Sebagai ilustrasi maka ada baiknya diteropong terkait dengan problematika dan kekuatan yang ada di PTNU.

Strongness

  1. Jaringan/Anggota PTNU yang cukup banyak, hampir 150 PTNU di seluruh Indonesia. Di Jatim ada 80 PTNU.
  2. Customer dan pelanggan yang jelas, yakni warga Nahdliyin.
  3. Terdapat beberapa PTNU yang berkualifikasi baik, terakreditasi A atau B atau sering memenangkan kompetisi nasional.
  4. Potensi row input / calon mahasiswa baru dari sekolah maarif yang sangat besar. 193 SMA, 444 MA, 84 SMK di Jatim.

Weakness

  1. Citra PTNU yang belum bermutu
  2. Lemahnya institusi dan manajemen PTNU
  3. Kepercayaan Masyarakat yang cukup rendah pada PTNU
  4. SDM yang belum professional
  5. Masih lemahnya akses, baik kepada pemerintah maupun stakeholeder lainnya
  6. Kurangnya kekompakan diantara PTNU
  7. System penjaminan mutu masih belum menjadi arus utama
  8. Banyak membuka program studi yang jenuh
  9. Dana yang minim, fasilitas terbatas.

Opportunity

  1. Terdapat anggaran yang besar sekali di tangan pemerintah yang dapat dimanfaatkan
  2. Perhatian pemerintah yang lebih baik terhadap masalah-masalah pendidikan
  3. Dukungan Teknologi Informasi
  4. Banyak peluang program studi baru yang memungkinkan dibuka

Threat

  1. Dunia PT merupakan salah satu yang terkena dampak globalisasi, ditandai dengan masuknya modal asing di dunia PT
  2. Adanya PT yang dikelola dengan standar Internasional
  3. Kompetitor PTN/PTS lain yang lebih ternama dan bermutu
  4. Kuota PTN yang seolah tak terbatas.

Oleh karenanya, melalui LPTNU telah disepakati mengenai visi daripada LPTNU yang berfokus pada upaya untuk mewujudkan PTNU yang bermutu, mendapatkan kepercayaan public dalam menghasilkan SDM bangsa yang cerdas (spiritual, intelektual, emosional), berkualitas, professional dan kompeten, berkinerja tinggi, serta produktif dan bermoral.

Untuk merealisasikan visi tersebut maka LPTNU telah mempunyai program yang antara lain sebagai berikut:

  1. Peningkatan institusi PTNU

Kegiatan ini berfokus pada penguatan LPTNU dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan seperti workshop manajemen dan pengembangan, lokakarya akreditasi aupun fundrising, lokakarya perpustakaan, pembuatan database PTNU dan komunikasi dalam forum-forum resmi PTNU.

  1. Peningkatan Kualitas SDM

Focus kegiatan pada upaya sosialisasi, pelatihan, maupun workshop dan lokakarya tentang sertifikasi dosen, pelatihan AA dan pekerti, penelitian, jurnal, jabatan fungsional, maupun manajemen dan administrasi.

  1. Peningkatan Kualitas Sistem Pengajaran

Program ini berkisar pada lokakarya dan pelatihan tentang peningkatan kurikulum PT, study banding, standarisai pengajaran materi keislaman, aswaja dan Ke NU an, pembelajaran IT, dan teknologi pembelajaran.

  1. Penciptaan dan penguatan Jaringan

Focus kegiatan pada kerjasama, baik internal PTNU, antar PT maupun upaya untuk membuka jaringan dengan pemerintah dan stakeholder lainnya, baik dalam maupun luar negeri.

  1. Penguatan organisasi

Meliputi melengkapi perangkat organisasi termasuk sekretariat tetap di Jakarta, intensifikasi koordinasi dengan lembaga, lajnah, banom NU, serta pemerintah. Serta focus pada pembangunan citra PTNU.

 

Penutup

Ada harapan yang sangat besar terhadap Jamiyah NU maupun Jamaah NU untuk lebih memperhatikan persoalan pendidikan dan persoalan social kemasyarakatan dan kesejahteraan lainnya daripada persoalan politik praktis dan kepentingan jangka pendek. Karena ternyata setelah disadari bahwa kebesaran NU yang sesungguhnya adalah terdapat dalam kegiatan-kegiatan tersebut.

BEM PTNU sudah pada tempatnya menjadi wahana bagi calon intelektual muda NU untuk ikut mendorong dan melengkapi terhadap upaya untuk memajukan PTNU yang kita cintai.

 

(Makalah disampaikan dalam Muswil BEM PTNU Jawa Timur di Unisda Lamongan tanggal 11 November 2010)