Allah yang menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya, sekaligus mengaturnya dengan hukum-hukum yang telah diciptkanNya. Agar dapat berjalan dengan Sunnatullah, aman, tentram, damai dan sejahtera.Allah jua yang memperjalankan kehidupan dunia dengan waktu sebagai penanda. Waktu yang kemudian berwujud dalam second, detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun serta abad. Semua tentu mempunyai hikmah yang harus senantiasa digali dan dihayati oleh ummat manusia.

Seiring perjalanan manusia dimuka bumi yang dihamparkan Allah dalam edaran waktu yang berjalan dan terus berjalan mengiringi langkah anak-anak manusia, muncul pertanyaaan sudahkah waktu termanfaatkan dengan baik, sudahkah kita melakukan muhasabah atau evaluasi atas waktu dan perbuatan yang kita lakukan, sudahkah waktu yang lewat itu membawa berkah kebaikan atas apa yang kita lakukan di dalamnya.

Salah satu hal penting yang membedakan orang sukses dengan yang tidak sukses adalah bagaimana memanfaatkan waktu dengan baik. Allah SWT memberi bekal terhadap setiap manusia di muka bumi dengan modal yang sama. 24 jam sehari semalam, 7 hari dalam seminggu, 12 bulan dalam satu tahun. Namun ternyata, hasil atas modal yang diberikan Allah pada tiap manusia itu hasilnya tidak sama. Tidak sama memuaskan, tidak sama prestasinya, dan tidak sama kualitas akhir kehidupannya, yakni khusnul khotimah kah ia atau bahkan su’ul khotimah, naudzubillah min dzalik.

Bahwa kadar keberhasilan tiap orang tentulah tidak sama itu patut untuk disepakati. Misalnya ada orang yang kaya dengan total harta 10 milyar, ada orang yang hidup berkecukupan dengan gaji bulanan 1 juta, bahkan ada juga yang masih mencari sesuap nasi pada tiap hari untuk menyambung hidup dari hari ke hari. Ada orang yang dengan penghasilan hidupnya lantas bersyukur kepada Dzat Pemberi Hidup. Namun banyak pula mereka yang berkelebihan sekalipun tidak pernah merasa puas atas apa yang didapatkan selama ini, sehingga sampai tidak mengingat akan hak orang yang tidak berpunya untuk disantuni oleh dirinya.

Ada pula orang yang karirnya cepat, melesat kilat. Ada juga yang harus meniti karir dari jabatan terbawah, menapak satu demi satu tangga karir yang harus dilalui. Semua ini, tentu disamping pada satu sisi adalah bagaimana mengatur menejemen waktu yang ada dengan kegigihan dan kesungguhan, juga, yang tidak boleh dilupakan adalah keberadaan takdir yang sudah di tentukan oleh Yang Maha Kuasa.

Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, selama kaum itu tidak berusaha merubah dirinya sendiri. Artinya, tangan Tuhan akan bergerak sinergis dengan usaha yang kita lakukan. Tidaklah mungkin Tuhan akan memberi sesuap nasi kepada anak manusia bila ia tidak mau bekerja dan malas. Tidaklah mungkin Tuhan memberikan kelulusan ujian pada anak manusia, bila ia tidak mau belajar. Walaupun semua bisa dilakukan oleh Tuhan dengan Kun fayakun. Jadilah (sesuatu) maka Jadi (lah sesuatu itu). Namun, dengan dasar hukum-hukum sunnatullah, semua yang terjadi di alam akan tunduk pada hukum-hukum Allah. Demikian pula Allah, sebagai pemilik hukum-hukum itu, tentu akan memelihara hukum-hukumnya dengan baik. Bila ada yang melanggar hukumnya, maka atas resikonya sendirilah akibat atas perbuatan anak manusia itu.

Tuhan sudah banyak sekali memberi kita. Bahkan atas apa-apa yang tidak pernah kita minta, bila itu kita butuhkan Allah akan memeberinya. Dia (Allah) selalu melihat dan mendengar doa kita, dan selalu memeberi apa yang kita butuhkan, bukan pada apa yang kita minta.

Demikianlah, posisi kemurahan Allah atas manusia yang saya berusaha deskripsikan. Dengan itu, apakah sudah kita bersyukur atas waktu yang diberikan sedemikian banyak pada kita, berupa kesempatan dan kelapangan. Jiwa raga maupun harta. Terlebih waktu, yang sering dilupakan anak-anak manusia. Waktu adalah pedang, siapa yang melenakannya akan ditebasnya. Waktu lebih mahal dari emas dan permata. Siapa yang dapat memanfaatkan waktu dengan baik niscaya keberhasilan ada padanya.

Nabi Muhammad pernah bersabda: “Jagalah lima perkara sebelum datang yang lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, waktu senggangmu sebelum datang waktu sempitmu, masa hidupmu sebelum datang waktu kematianmu.” (HR. Bukhori). Hadits Nabi ini menjadi pelejaran berharga untuk tiap ummat manusia agar memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Jangan biarkan waktu untuk bermalasan, jangan biarkan ia terbuang, jangan biarkan waktu berlalu tanpa manfaat yang dapat kita petik daripadanya. Sungguh rugi dan nestapa orang yang melenakan waktu yang berjalan tanpa arti, Nabi juga pernah bersabda, “Ada dua ni’mat yang dilalaikan oleh manusia, manusia tertipu dengan nikmat tersebut: yaitu nikmat sehat dan waktu kosong.” (HR. al-Hakim yang telah dishahihkan Syaikh al-Albani dalam kitab Al-Jami’).

Tahun baru dan Momentum Penyadaran diri

Ya, detik-detik yang berlalu dan hari yang kemudian menjadi tahun yang segera berganti. Haruslah berarti, haruslah bermakna, haruslah disadari dan harus pula menghasilkan penyegaran diri untuk semakin semangat dalam menjalani hidup dan kehidupan dengan perilaku untuk berprestasi dan berprestasi. Tanpa henti dan tanpa usai sampai ajal menjemput kita.

Momentum ini harus ditangkap. Kita tidak boleh membiarkan diri kita liar. Tidak boleh pula apa yang kita lakukan hari ini lepas konteks begitu saja dengan waktu. Ya, Tahun ini segera berganti. Janganlah sia-siakan untuk berkontemplasi dalam rangka mendapatkan makna dan semangat hidup baru.

Bagaimana kalau yang dicari (makna) itu tidak ketemu? Carilah itu. Karena Hikmah Allah itu luas, luas seluas dunia dengan segala isinya dan fenomena di dalamnya. Allah menciptakan Bumi dan segala isinya ini adalah untuk kebaikan manusia. Maka akan tidak mungkin manusia akan menemukan kemadlorotan di dalamnya (bumi), manakala manusia itu sendiri tidak melakukan perbuatan buruk yang menyimpang dari fitroh Sunnatullah. Adanya bencana, adanya musibah, adanya peperangan, semua dipicu oleh ulah perbuatan tangan-tangan kotor manusia. Tuhan tidak pernah menginginkan ciptaanNya ini rusak, bahkan menghasilkan ketersiksaan buat ummat manusia. Tuhan Maha Baik maka atas apa yang diciptakanNya pastilah juga mengandung kebaikan. Ingatlah firman Allah: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar rum:41).

Oleh karenanya, dalam momentum tahun baru seperti ini. Apalagi dengan dua tahun baru yang datang beriringan, mestinya dan sudah pada tempatnya penyadaran itu harus berlipatganda. Marilah melakukan instrospeksi sedalam dan sekhusyuk mungkin dalam rangka menata hari esok yang lebih baik dengan kualitas hidup yang meningkat, baik duniawi kita maupun ukhrowi kita. Bukankah orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemaren, dan hari esok lebih baik dari hari ini?. Tidak ada alasan lagi, hidup yang bermanfaat adalah hidup yang dilalui dengan perbaikan kualitas kehidupan itu sendiri.

Kemudian, marilah mencari makna hidup itu dalam posisi diri kita masing-masing. Kualitas pada satu orang mungkin standarnya akan berbeda dengan orang lain. Tidak bisa semua orang sama kaya dan sama prestasinya. Semua kita dapat dan kita belanjakan adalah menurut kadar kedudukan pada masing-masing orang, yang itu sebagaian diantaranya adalah ditentukan oleh diri masing-masing orang.

Pertanyaan Akhir Tahun

Beberapa Muhasabah yang dapat kita lakukan terhadap evaluasi keberadaan kita dalam menghabiskan waktu antara lain adalah dengan menayakan pada hati nurani kita tentang bebeberapa hal:

  1. Berapa banyak waktu kosong yang terbuang sia-sia dalam satu tahun ini?
  2. Berapa banyak waktu yang dapat kita manfaatkan untuk aktifitas positif yakni menguntungkan diri dan orang lain?
  3. Berapa banyak waktu yang kita lakukan untuk perbuatan yang negatif yakni merugikan diri sendiri maupun orang lain?
  4. Berapa banyak perbuatan yang kita lakukan dilandasi egoisme kepentingan diri sendiri dan golongan?
  5. Berapa banyak perbuatan yang sungguh-sungguh demi kebaikan diri dan orang lain atau masyarakat?
  6. Pernahkan bersyukur dan bertafakkur dalam setiap hari, untuk merasakan hadirnya waktu dan bagaimana kita memanfaatkannya?
  7. Pernahkah merasakan bahwa kehadiran waktu amat membosankan sehingga berakibat ketersiksaaan?
  8. Berapa banyak waktu untuk duniawi?
  9. Berapa banyak waktu untuk ukhrowi?

Dan mungkin masih banyak lagi perenungan-perenungan waktu yang dapat kita lakukan dengan pengembangan pribadi kita dalam kedudukannya sebagai anggota keluarga, orang tua, anak, saudara, murid, guru, petani, majikan, buruh, pejabat, pegawai, penguasaha, dan banyak profesi dan kesibukan lainnya. Tidak menutup kemungkinan pula, sisi budaya sebagai orang jawa, sunda, madura, batak dan suku-suku lain yang punya tradisi khas yang kemudian menuntut suatu tanggungjawab atas posisi kebermanfaatan seseorang sebagai manusia dalam konteks budaya setempat.

Namun pasti apa yang dikatakan Nabi, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lain.” (Al Hadits). Demikian pula firman Allah, sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa….” (QS. Al-Hujuraat (49): 13). Juga Sabda Nabi, ”Sebaik baik manusia ialah orang yang panjang umurnya, dan bagus amalnya, dan sejelek jelek manusia, adalah orang yang panjang umurnya akan tetapi rusak amalnya.”

Semoga bermanfaat, wallahu a’lamu.

Previous articleMengenal Matholi’ul Anwar dan Pendirinya
Next articleSebuah Ajakan Berhemat dalam Konsumsi Energi