Pendahuluan

Dengan amat indahnya Allah SWT menciptakan langit dan bumi berikut segala isinya, yang dengan itu semua Allah SWT memberikan mandat kepada ummat manusia untuk berfungsi sebagai khalifah di muka bumi ini. Baik buruknya dunia, tentu juga digantungkan pada sejauh mana kualitas manusia dalam memakmurkan bumi ini. Semakin perilaku khalifahnya tidak terpuji, maka semakin cepat rusaklah bumi ini. Namun, manakala khalifahnya bertindak dengan terpuji dan berdasarkan syari’atnya, maka bumi pasti menjadi makmur sejahtera.

Mengingat fungsi penting khalifah tersebut, maka yang harus dilakukan oleh ummat manusia, muslim khususnya, adalah mempersiapkan generasi sholeh yang berprestasi. Sebagaimana firman Allah, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. (Ali ‘Imran:104).

Tugas untuk mendapatkan generasi muslim yang unggul tersebut, harus diawali dari pendidikan seorang anak di dalam suatu keluarga yang memahami dan mengerti tugas dan tanggungjawabnya sebagai orang tua.

Paparan ini, berusaha untuk menjelaskan mengenai tanggungjawab dalam mewujudkan anak sholeh dan berprestasi. Pertanyaan-pertanyaan dalam judul meliputi, siapa yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anak, bagaimana mendidik anak sesuai tahapan usia, apa saja hak-hak anak, bagaimana memberikan stimulasi percepatan pendidikan pada anak, serta bagaimana praktik baik orang tua yang anak-anaknya berprestasi.

 

Keluarga dan Pendidikan Anak

Keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggota-anggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikan anak, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupanya (usia pra-sekolah)

Disamping itu, keluarga juga mempunyai peranan besar dalam pembangunan masyarakat. Karena keluarga merupakan batu pondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan personil-personilnya. Bila keluarga-keluarga di dalam suatu masyarakat ada dalam potret yang baik, maka dapat dipastikan kondisi masyarakatnya akan baik pula.

Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an Surat At-Tahrim ayat 6 yang artinya:”Wahai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”. Demikian pula Rasulullah juga mengajarkan betapa besarnya tanggung jawab orang tua dalam pendidikan anak. Sabda Nabi SAW: “Tidaklah seorang anak yang lahir itu kecuali dalam keadaan fitrah. Kedua orangtuanya yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR Muslim).

Dalam konteks makro, tentu selain keluarga terdapat juga pihak lain yang bertanggungjawab secara langsung maupun tidak, yakni lembaga pendidikan, masyarakat, serta negara. Sehingga anak-anak yang dihasilkan juga merupakan sinergi dari perlakuan semua pihak kepada anak-anak.

 

Hak-hak Anak

Anak-anak yang kita cintai, mereka bukanlah “milik” kita para orang tua, sebagaimana kepemilikan asset atau materi kebendaan lainnya. Ia pun bukanlah fotokopi para orang tuanya yang harus meniru persis seperti orang tuanya. Ia mempunyai hak, ia mempunyai pilihan, ia mempunyai nurani yang juga “bebas” berfikir sebagai manusia yang mandiri. Semua tentu berjalan setahap demi setahap, dari hal-hal yang kecil seperti memilih mainan, sampai nanti ketika dewasa memilih sekolah maupun bidang pekerjaan.

Orang tua sesungguhnya cukuplah untuk mendampingi seorang anak menuju kebaikan dirinya. Orang tua tidak boleh otoriter yang membabi buta tanpa alasan untuk kebaikan (maslahah) anak. Oleh karenanya, maka Islam memberikan hak-hak kepada anak di antaranya sebagai berikut:

  1. Hak untuk Hidup
  2. Hak untuk mendapat nama yang baik
  3. Hak penyusuan dan pengasuhan
  4. Hak mendapatkan kasih sayang
  5. Hak mendapatkan perlindungan dan nafkah dalam keluarga
  6. Hak mendapatkan pendidikan
  7. Hak mendapatkan kebutuhan pokok sebagai warga negara

Hak-hak anak ini apabila terpenuhi dengan baik, maka anak akan tumbuh dengan normal. Demikian pula, manakala pertumbuhan anak dilakukan dengan normal, pencapaian prestasinya pun akan berjalan dengan optimal pula. Ia akan tumbuh dengan ceria dan penuh cita-cita.

 

Materi Pendidikan pada Anak sesuai Perkembangan dan Usia

Allah SWT memberikan beban (taklif) kepada manusia berdasarkan proses perkembangan kemanusiannya. Demikian pula, semua yang mewujud dalam alam semesta ini berproses dari minimalis menjadi maksimalis. Dari ketiadaan atau keterbatasan menuju keberadaan atau kelengkapan.

Oleh karenanya maka di dalam proses pendidikan anak juga harus mempertimbangkan plus minus perkembangan usia dan kemampuan seorang anak. Baik itu kemampuan emosional, spiritiual maupun kemampuan fisik dan nalarnya. Pemaksaan pendidikan pada anak hanya akan membuat suasana otoriter dan menegangkan di dalam perkembangan psikologis anak.

Dalam beberapa literatur menyatakan, bahwa terdapat tahapan pendidikan yang seyogyanya diberikan pada anak menurut usianya, walaupun tidak harus kaku pada standar usia, namun sebagai orang tua harus bijaksana dalam memandang perkembangan putra-putrinya atas materi dan metode pendidikan yang harus diberikan.

Sebagai bahan ilustrasi, menurut usia, anak-anak dapat diberikan materi sebagai berikut:

  1. 6 1st Years Old (Enam Tahun Pertama)
  2. Kasih sayang dari pihak kedua orangtua, terutama ibu amat penting, agar anak belajar mencintai orang lain
  3. Membiasakan anak berdisiplin mulai dari bulan-bulan pertama dari awal kehidupannya. Misalnya, membiasakan anak untuk menyusu dan buang hajat pada waktu-waktu tertentu dan tetap.
  4. Jadi teladan yang baik bagi anak dari permulaan kehidupannya.
  5. Biasakan dengan etiket umum yang mesti dilakukan dalam pergaulan. Misalnya, berdoa sebelum makan, tidak menghisap jempol, tidak memakai pakaian atau celana yang pendek dll
  6. After 6th Years Old (Usia Setelah Enam Tahun)
  7. Kenalkan Allah dengan cara yang sederhana sesuai dengan tingkat pemikirannya
  8. Jelaskan tentang hukum yang jelas dan tentang halal-haram. Misalnya, tentang kewajiban menutup aurat, berwudhu, shalat, mencuri dan melihat kepada yang diharamkan
  9. Ajarkan dan biasakan membaca Al Qur’an dengan benar
  10. Ajarkan tentang hak-hak orang tua
  11. Kenalkan tokoh-tokoh teladan, ceritakan sirah Nabi, sahabat, pejuang Islam dan lain lain.
  12. Ajarkan tentang norma-norma yang berlaku dalam masyarakat
  13. Kembangkan rasa percaya diri dan tanggung jawab dalam diri anak
  14. Adolescent (Masa Remaja)
  15. Perlakukan anak sebagai orang dewasa
  16. Ajarkan kepada anak hukum-hukum akil baligh dan ceritakan kepadanya kisah-kisah yang dapat mengembangkan dalam dirinya sikap takwa serta menjauhkan diri dari hal yang haram.
  17. Berikan dorongan untuk ikut serta melaksanakan tugas-tugas rumah tangga, seperti melakukan pekerjaan yang membuatnya merasa bahwa dia sudah besar.
  18. Mengawasi dan menyibukkan waktunya dengan kegiatan yang bermanfaat
  19. Carikan teman yang baik.

 

Keharusan dan Larangan dalam Pendidikan Anak

Melakukan proses pendidikan menuju hasil yang optimal seyogyanya diimbangi dengan pengetahuan pendidik (orang tua atau guru) tentang apa yang semestinya diberikan kepada anak dan apa yang tidak boleh ditampakkan atau diberikan pada anak didik. Kesalahan-kesalahan dalam proses pendidikan mengakibatkan terhambatnya keberhasilan pendidikan, bahkan bila mungkin akan terjadi kegagalan pencapaian tujuan pendidikan.

Beberapa kekeliruan atau hal yang sering diabaikan oleh orang tua dalam mendidik anaknya adalah sebagai berikut:

  1. Ucapan pendidik tidak sesuai dengan perbuatan. Sebagaimana firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (Q.S. Ash Shaff : 2-3).
  2. Kedua orangtua tidak sepakat atas cara tertentu dalam pendidikan anak.
  3. Membiarkan anak jadi korban televisi
  4. Menyerahkan tanggung jawab pendidikan anak kepada pembantu atau pengasuh
  5. Pendidik menampakkan kelemahannya dalam mendidik anak.
  6. Berlebihan dalam memberi hukuman dan balasan
  7. Berusaha mengekang anak secara berlebihan
  8. Mendidik anak tidak percaya diri dan merendahkan pribadinya

Sedangkan untuk keberhasilan proses pendidikan anak maka ada beberapa hal yang yang harus dioptimalkan pemenuhannya, sebagai berikut:

  1. Pemenuhan hak-hak anak (sebagaimana telah disebutkan di atas).
  2. Pemberian Stimulasi pada Anak
  3. Mencontoh Orang Tua yang Berhasil

 

Pemberian Stimulasi pada Anak

Untuk mendapat hasil pendidikan yang optimal tentu harus digunakan metode dalam mendidik. Ada sejumlah langkah yang dapat mengoptimalkan sisi moral dan spiritual anak, yakni dengan memberikan beberapa stimulasi, yakni pendengaran, penglihatan, perabaan dan permainan.

 

Mencontoh Orang Tua yang Berhasil

Sebagai pendidik dan orang tua, kita juga harus senantiasa belajar. Yakni belajar mengenai bagaimana mendidik anak dengan baik. Tidak ada jeleknya apabila sebagai orang tua kita belajar pada para orang tua lainnya yang telah berhasil mendidik anak-anaknya menjadi anak yang sholeh dan berprestasi.

Ada beberapa hasil penelitian mengenai perilaku mendidik orang tua pada anak-anaknya. Namun, terdapat satu penelitian penting yang langsung mengkorelasikan diri terhadap profil kepengasuhan orang tua yang menghasilkan anak-anak yang berprestasi. Penelitian ini dilakukan di Yogyakarta.

Tujuan penelitian tersebut untuk mengetahui profil pengasuhan orangtua dari anak-anak yang berprestasi. Hal-hal yang ingin diketahui oleh peneliti adalah usaha-usaha yang dilakukan anak untuk mencapai prestasi, hal-hal yang dipandang orangtua untuk dimiliki anak, dan cara-cara pengasuhan yang dilakukan orangtua agar anak mencapai prestasi optimal.

Mereka (para peneliti) menjadikan orangtua dari anak-anak berprestasi yang sedang menempuh pendidikan dasar sebagai informan riset. Jumlah informan sebanyak 10 orang. Informan diperoleh berdasarkan purposive sampling dan snowball sampling. Informasi diperoleh dengan cara melakukan wawancara yang mendalam dengan menggunakan kuesioner.

Hasil penelitian menunjukan bahwa anak-anak yang memiliki prestasi unggul, baik akademis maupun non-akademis, melakukan hal-hal berikut ini, yaitu:

  1. melatih dan meningkatkan bakat-bakat yang dimiliki,
  2. mengikuti berbagai macam lomba,
  3. melakukan tugas-tugas dengan senang hati,
  4. disiplin dalam belajar, dan
  5. belajar secara berkelompok.

Hasil berikutnya adalah orangtua dari anak-anak yang berprestasi memiliki pandangan bahwa ada beberapa prinsip yang perlu dimiliki anak untuk mengantarkan anak menjadi individu yang berprestasi, yaitu:

  1. perilaku keagamaan dan moral etik,
  2. kedisiplinan,
  3. kepemimpinan,
  4. prestasi dan motif berprestasi, serta
  5. keprihatinan, kesabaran, dan menunda kenikmatan.

Dari penelitian lapangan juga diketahui bahwa orangtua dari anak-anak yang berprestasi merlakukan hal-hal berikut ini, yaitu:

  1. menemani atau mendampingi anak saat belajar,
  2. memberi pengarahan, peringatan, dan melakukan kontrol atas aktivitas anak,
  3. memberi dukungan kepada anak,
  4. memberi penghargaan terhadap anak,
  5. menjadi teladan bagi anak-anak, dan
  6. memberi perlakuan yang adil terhadap anak laki-laki dan anak perempuan.

 

Penutup

Anak-anak kita adalah aset masa depan. Tidak hanya aset pribadi dan keluarga, namun lebih penting dari itu adalah aset bangsa, negara serta keummatan. Ingat sabda Nabi, “Apabila manusia mati maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu bermanfaat, atau anak shaleh yang mendo’akannya.” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah).

Wahai orang tua teruslah didik anakmu dengan baik, ajarilah mereka ilmu dunia dan akherat.

 

Daftar bacaan:

  1. Djamaluddin Ancok dan Fuad Nashori, Psikologi Islami, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995.
  2. Daniel Goleman, Emotional Intelligence, terj. T. Hermaya, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999.
  3. Fuad Nashori, Profil Orang Tua Anak-Anak Berprestasi, Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2005.
  4. Robert Coles, Menumbuhkan Kecerdasan Moral pada Anak, terj. T. Hermaya, judul asli, “The Moral Intelligence of Children: How to Raise a Moral Child”, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000.
  5. Wirianingsih, Pendidikan Anak dalam Islam, slide, Bangkok, Januari 2008, dari http://72.14.235.132/search?q=cache:kqNoHcG4n_QJ:siln.org/flash/pendidikananak.
Previous articleMerokok, Halal atau Haram Tidak Penting, yang Penting Berhenti!
Next articlePendidikan di Indonesia; Antara das Sein dan das Sollen