Beberapa waktu lalu, Minggu 4 Januari 2009) digelar majelis dzikir di Gresik (depan wisma A Yani dan sepanjang Jalan Veteran) dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW dan sekaligus Haul Akbar Sulthonul Awliya’ Syekh Abdul Qadir Jaelani sekaligus pula memperingati Haul Maulana Malik Ibrahim, Kanjeng Sunan Giri dan juga Al Arif Billah Kyai Haji Utsman Al Ishaqi. Perhelatan dzikir itu diselenggarakan oleh Jamiyyah At Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah al Oestmaniyyah yang berpusat di Pondok Pesantren Al Fitrah Kedinding Surabaya.

Luar biasa, walaupun saya sudah sering mengikuti acara-acara majelis dzikir al khidmah di berbagai kota, namun, saya tetap terbawa pesona lautan manusia yang berjumlah ribuan, bahkan puluhan ribu, hingga ratusan ribu. Pesona manusia-manusia berdzikir dengan khusyuk, seksama dan tertib itu membuat bulu kuduk saya merinding. Kelantunan irama dzikir di bawah pimpinan kyai itu sungguh membuat suasana religius tidak hanya terasa dalam kulit saja (merinding), namun juga menghujam menyentuh nurani. Tidak cukup sampai di situ, air mata tak terasa meleleh setetes demi setetes dari kelopak mata yang dibanjiri air mata. Sungguh, suasana bathiniah mana yang tidak tergugah dengan lantunan do’a dan munajat yang sungguh sangat mengena, apalagi rangkaian doa yang diucapkan dengan sedemikian lembut dengan tutur rangkaian kata yang bersyair untuk mengungkapkan kepada Sang Pencipta betapa dosa dan kehilafan masing-masing diri dihadapkan pada harapan akan pertolonganNya untuk menghapus dosa-dosa itu dan pula, mengharap dengan tulus ikhlas kepada perbaikan ketakwaan dan kebahagiaan dunia dan akherat.

Maka tak heran, ribuan orang menangis harus, tersedu-sedu, meraung tangis dalam muhasabah dirinya masing-masing. Bahkan, ada yang sampai kehilangan kesadaran dalam dzikirnya (ekstase). Subhanallah. Bahkan, sering pula di jumpai dalam majelis dzikir seperti itu ada yang meninggal dunia, sungguh itu merupakan pertanda khusnul khotimah.

Mereka yang hadir meliputi semua kalangan, habaib, kyai, alim ulama, pejabat, guru, dosen, pegawai, pedagang, petani, mahasiswa, pelajar, ibu rumah tangga, bahkan para pekerja kasar atau buruh menjadi peserta kegiatan itu. Mereka menjadi satu kesatuan dalam kebutuhan spiritual yang menjadi hak semuanya, mereka menunjukkan bahwa dalam dalam spirit keagamaan yang sama mereka menjadi sama. Yang kaya atau yang miskin sama duduk bersila di hamparan alas karpet (sering berupa terpal dan plastic) yang disediakan panitia. Bahkan tidak cukup, sampai harus bawa alas masing-masing dan mereka berbagi alas satu sama lain.

Ketidakadaan pangkat dalam potret majelis dzikir juga terlihat dari betapa sedemikian dapat berbaginya antar mereka ketika makan bersama usai acara. Sebagaimana biasa, para jamaah makan dalam satu nampan (baki, lengser) untuk 4 sampai 5 jamaah. Suatu suasana yang guyub tanpa rasa gengsi yang nampak sedikitpun, antara mereka yang pejabat dengan rakyat, antara mereka yang kyai dengan santri. Luar biasa. Makanan itu, dihabiskan, tidak boleh tersisa, dan biasanya menurut pengalaman saya makan ala pesantren seperti itu, dimakan tiga orang kenyang, pun demikian kenyang bila dimakan 6 orang. Barangkali itulah makanan berkah.

Hal seperti itulah sesungguhnya potret makna kemusliman dan kemukminan kita. Muslim satu dengan lainnya adalah saudara. Mukmin satu dengan yang lain adalah saudara. Ya, Innamal mu’minuna ikhwah. Sesama muslim tidak boleh saling membenci, tidak boleh saling menggunjing, tidak boleh saling menjatuhkan, tidak boleh saling memfitnah dan sebagainya. Demikian pula antar muslim sudah seharusnya saling mencinta, saling berprasangka baik, saling mendoakan, saling membantu kala sulit dan senang, salaing berbagi, dan sebagainya. Namun sayang, kerap ditemui contoh kurang baik di lapangan kehidupan, bila seorang yang mengaku muslim berprilaku negatif pada muslim lainnya. Naudzubillah.

 

Pesona dan Kharisma Sang Mursyid

Sosok Romo Kyai Haji Achmad Asrori al Ishaqi adalah sentral dari majelis dzikir ini. Karena beliaulah pemimpin tertinggi atau mursyiduttariqah, yakni guru dari ajaran thariqah tersebut yang mendapat mandat dari guru-guru mursyid sebelumnya. Ketawadlu’an para murid dan jamaah majlis dzikir bukan hanya pada sosok beliau sebagai mursyid mereka, namun kepribadian dan keilmuan beliau lah yang lebih mendorong para murid dan jamaah terkesima akan pesona pribadi beliau. Wajahnya sejuk, parasnya tampan, hidung mancung, kulit putih bersih, suaranya lembut menyentuh, tutur katanya santun tak menyinggung, sorot matanya teduh, cara berjalannya berwibawa, tangannya lembut, baunya badannya wangi, dan setiap yang diceramahkan religius sekaligus ilmiah. Beliau suka menjelaskan materi ceramahnya dengan melihat audiennya siapa. Menjelaskan materi secara sistematis, kronologis, metodologis dan dengan bahasa yang mudah dipahami dan dicerna oleh semua yang hadir.

Pengalaman beliau memberi ceramah di Kampus Unisda Lamongan, beliau bertanya, ”pakai bahasa jawa apa Indonesia?”, jamaah menjawab ”bahasa jawa”, karena memang para hadirin mayoritas orang-orang desa. Beliau jawab, ”kalau saya pakai bahasa jawa, kan kita ini ada di dalam Universitas, biasanya kalau di universitas itu mestinya bahasa Indonesia. Namun, kalau saya pakai bahasa Indonesia, hadirin kebanyakan lebih menyukai bahasa jawa. Sehingga, bagaimana kalau saya pakai bahasa madura saja? (sambil tertawa kecil)”. Kontan jamaah diam, bingung mau jawab apa. Tiba-tiba beliau berkata ”Ya, saya pakai bahasa jawa saja ya biar lebih luwes”.

 

Kyai Asrori dan Para Profesor

Mungkin karena pesona tersebut itulah, banyak rektor dan pimpinan perguruan tinggi, berikut profesornya berbondong bondong mengikuti jamaah beliau, baik hanya sebatas muhibbin (pecinta majelis beliau) maupun juga muridin (mereka yang sudah dibaiat oleh kyai menjadi murid). Tak kurang, Rektor ITS, Rektor UM Malang, Rektor UIN Malang, Rektor Unibraw Malang, Rektor UMM Malang, Rektor Unissula Semarang, dan juga saya Rektor Unisda Lamongan.

Beliau kerap menyelenggarakan acara dikampus-kampus. Jamaah al Khidmah dapat diterima baik di banyak kampus. Hal ini dapat berfungsi positif dalam rangka membentengi kampus dan keilmuan didalamnya dengan nilai-nilai spiritual, juga, tentu saja bermakna dakwah, yakni sebagai counter terhadap pandangan miring kalangan luar yang tidak mempunyai dasar argumentasi cukup dengan mengatakan bahwa kegiatan thariqah dan majlis dzikir sebagai bid’ah. Justru yang ada saat ini adalah al Khidmah menunjukkan dapat diterima oleh kalangan kampus.

Bahkan, syukur alhamdulillah. Unisda sendiri merupakan kampus pertama yang dikunjungi Kyai dan jamaah beliau. Sampai saat ini, sudah lima kali dalam lima tahun diselenggarakan acara serupa di Unisda.

Bukan hanya orang kampus. Kalangan pejabat terpelajar pun banyak sekali menyukai acara yang diselenggarakan oleh al Khidmah ini. Tak kurang Prof Dr Jimly Asshiddieqy semasa menjadi ketua Mahkamah Konstitusi juga menyempatkan hadir. Demikian pula para menteri-menteri tidak luput dari menghadiri acara majelis dzikir tersebut.

 

Kegiatan yang Meng-Internasional  

Gerakan majlis dzikir ini luar biasa. Karena ditingkat kecamatan maupun desa ada kegiatan majelis dzikir mingguan, di tingkat kabupaten juga terjadwal, ditingkat nasional bahkan internasional juga ada. Acara Haul Akbar yang biasa dilaksanakan menjelang bulan Ramadlan bahkan tidak kurang dari 200.000 jamaah. Ini berdasarkan laporan panitia haul akbar 2008 yang menyediakan nasi bungkus sejumlah itu. Hal itu tidak mengherankan, karena sebaran jamaah ini meliputi seluruh Indonesia, bahkan ada yang di luar negeri seperti Singapura, Brunei, Malaysia bahkan Timur Tengah.

Satu hal lagi, para jamaah senantiasa tertib dan membawa kedamaian ketika menghadiri atau menjelang bubarnya jamaah dari majelis dzikir. Ini tidak seperti penonton bola yang seringkali ribut, atau mereka yang berunjuk rasa yang seringkali bikin onar. Biaya pun demikian, dengan jumlah jamaah yang ribuan itu ternyata al Khidmah tidak pernah mempunyai kendala berarti dari jamaah. Subhanallah.

 

Previous articleGelaran Sholat Malam Versus Konser Musik
Next articleMemperingati Maulid Nabi SAW