Jakarta, 18 Maret 2021

Beliau menjadi pengasuh PP Matholiul Anwar semenjak 17 Juli 1935 (melanjutkan tugas orang tua dan kakak-kakak beliau), yang ketika itu beliau baru berumur 18 tahun dan sedang giat-giatnya mengenyam ilmu di berbagai pesantren di sekitar kabupaten Lamongan, termasuk di pesantren Langitan. Dalam usia yang masih sangat belia tersebut, beliau mengasuh pesantren sekaligus juga mondar-mandir menimba ilmu kepada beberapa Kyai dengan pengajian sorogan. Hal ini dapat dipahami bahwa tanggung jawab beliau secara pribadi dan sosial sangat besar dan seimbang.

Sekalipun muda, kharisma dan kepribadian beliau memang layak untuk menyandang derajad tersebut, demikian pula tanggung jawab yang sedemikian besar dalam memimpin ummat harus diiringi dengan kemampuan yang baik dalam penguasaan keilmuan maupun kepemimpinan.

Diantara kepribadian beliau, selalu menghargai pendapat orang lain, mendengarkan dua kali lebih banyak dari pada berbicara, mengasihi kaum lemah, nada suaranya teduh dan menyejukkan hati bagi orang lain, ketika berceramah tidak menjadikan orang lain tersinggung, mengasihi orang miskin dan menghormati orang kaya. Hal ini nampak dari kebiasaan beliau jika di undang oleh seseorang dalam hari dan jam yang hampir bersamaan, yang satu miskin dan yang lain kaya, maka beliau datang dulu kepada orang miskin tersebut, baru kemudian kepada orang kaya.

Sosok visoner, pada tahun 1950-1960an sudah merintis lembaga pendidikan formal Madrasah, yang saat ini di Matholiul Anwar sudah eksis TK, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, berikut SMP dan SMK serta Perguruan Tinggi. Dengan jumlah siswa (belum termasuk mahasiswa) berkisar 4000 dan santri mukim berkisar 1500.
Beliau pulang ke Rahmatullah pada tanggal 30 Januari 1983