Dalam kunjungan kerjanya pada tanggal 27 Desember 2008 lalu di Unisda Lamongan. Dir DP2M Prof. Dr. Muhammad Munir menekankan pentingnya penelitian bagi para dosen. Beliau kecewa dengan masih banyaknya dosen di tanah air yang enggan meneliti. Oleh karenanya, setiap beliau kunjungan ke kampus-kampus pasti yang ditanyakan pertama kali adalah berapa dosen yang lolos proposal penelitiannya di dikti?, dan pertanyaan pada level apa mereka memperolehnya? Penelitian dasarkah, penelitian dosen mudakah atau penelitian lain yang lebih tinggi level tingkatan dan dananya.

Hal itu pula yang dikatakan oleh Direktur ketika di Unisda. Begitu datang, langsung tanya, “mana dosen-dosen, mungkin saya bisa bicara dengan beberapa di antara mereka?”. Ketika ditanya oleh pak Maskub, “mohon maaf Prof, untuk kepentingan apa kalau boleh tahu?”. “Saya ingin tanya mereka, kalau meneliti kesulitannya di mana?, dan bila masih enggan apa permasalahannya?”, demikian papar Prof. Munir.

Saya perintahkan pada Pak Maskub untuk langsung memanggil kepala LPPM Pak Yahya untuk merespon permintaan Pak Direktur. Syukurlah, di antara kesibukan wisuda hari itu, Pak Yahya menyempatkan diri untuk memenuhi panggilan Pak Direktur. Didampingi beberapa dosen, kami menyimak arahan Pak Direktur mengenai tanggungjawab perguruan tinggi khususnya dosen untuk aktif meneliti.

Dari apa yang dibicarakan dalam forum komunikasi bersama Pak Direktur tersebut, dapat diambil saripati mengenai bagaimana penelitian di perguruan tinggi dapat dipahami dan dilakukan, saya mencatat beberapa hal sebagai berikut:

  1. Penelitian adalah bagian dari Tridharma perguruan tinggi

Sebagaimana diketahui, bagian terpenting dari keberadaan tugas dan fungsi suatu perguruan tinggi adalah terdapat dalam Tridharma Perguruan Tinggi. Isinya mengenai pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat. Ketiga fungsi tugas itu harus dilaksanakan, ketiganya juga merupakan fungsi yang satu sama lain saling berkaitan. Tidak bisa suatu perguruan tinggi hanya melaksanakan sebagiannya saja.

  1. Penelitian juga Kewajiban dalam al Quran

Perintah meneliti juga termaktub dalam al Qur’an dalam beberapa ayatnya. Ayat yang menjelaskan Ulul Albab (disebut 16 kali dalam al Qur’an) misalnya dengan jelas menyatakan ciri-ciri ulul albab yang bersungguh-sungguh menggali ilmu pengetahuan yakni menyelidiki dan mengamati semua rahasia wahyu (al-Qur’an maupun gejala-gejal alam), menangkap hukum-hukum yang tersirat di dalamnya, kemudian menerapkannya dalam masyarakat demi kebaikan bersama. Allah berfirman, Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (cendekiawan), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS, Ali Imran, 190-191). Menurut Ibn Katsir, selain mampu memahami fenomena alam dengan segenap hukumnya yang menunjukan tanda-tanda keagungan, kemurahan dan rahmat Ilahi, ulul albab juga seorang yang senantiasa berdzikir dan berpikir, yang melahirkan kekuatan intelektual, kekayaan spiritual dan keluhuran moral dalam dirinya.

  1. Memahami Tridharma dengan Keutuhan

Tridharma perguruan tinggi harus dipahami dengan keutuhan. Elemen pertama, kedua dan ketiga bukanlah urutan dalam implementasinya. Semua harus dikerjakan bersamaan. Seringkali pemahaman salah yang memisahkan dan mengurutkan seperti itu menyebabkan aplikasi penelitian menjadi dikesampingkan dan di nomor duakan.

  1. Memulai meneliti dengan Keberanian

Seringkali para sivitas akademika merasa ragu bahkan takut kalau proposalnya ditolak sebelum mengajukan proposal. Hal ini mengakibatkan terhambatnya kreatifitas dan kompetensi seorang dosen dalam meneliti di masa yang akan datang. Rasa takut yang tidak perlu dipelihara itu hendaknya digantikan dengan keberanian. Dengan keberanian, maka akan dapat diketahui apakah akan berhasil atau tidak. Kalaupun gagal maka si dosen akan mengetahui dimana letak kesalahan dalam penulisan proposalnya. Sehingga pada saat berikutnya ia akan dapat memperbaiki bentuk tulisannya.

  1. Jangan Takut Salah Ketika Mengajukan Proposal

Pokoknya ajukan saja, kata pak Direktur. Dengan mengajukan itu, bila gagal masih ada hikmah dan pelajaran yang dapat diambil yakni review atau koreksi atas kesalahan yang ada. Bukankah pelajaran yang baik itu juga dari melakukan hal-hal yang salah kemudian kita berusaha memperbaiki, belajr dari konret pengalaman sehari-hari (praktik) tentu lebih utama dari pelajaran sekadar teori semata.

  1. Dukungan Institusional sangat Penting

Sejauh mana dukungan institusi (perguruan tinggi) menjadi sangat penting dalam kaitannya dengan penelitian. Tanpa peran serta perguruan tinggi mustahil program tridharma dapat berjalan sukses. Oleh karenanya, perguruan tinggi harus bikin model yang dapat mendorong dan merangsang kalangan sivitas akademika untuk meneliti. Rangsangan itu dapat berupa, pertama, fasilitasi kelembagaan yang khusus mengurusi penelitian, misalnya dengan membentuk Lembaga Penelitian; kedua, fasilitasi sarana untuk menyebarluaskan hasil-hasil penelitian, misalnya dengan membuat jurnal penelitian atau jurnal ilmiah yang menampung hasil karya penelitian sivitas akademika; ketiga, melengkapi sarana kampus yang menunjang terselenggaranya penelitian dengan baik, dalam hal ini dapat melengkapi kampus dengan fasilitas laboratorium yang dapat dipakai sebagai uji lab atas apa yang dilakukan peneliti; keempat, rangsangan kesejahteraan, setiap perguruan tinggi yang ingin mendorong agar kapasitas penelitiannya meningkat dapat membuat sistem bonus atau penghargaan materi atas dosen yang melakukan penelitian, menulis di jurnal, dan menerbitkan buku; kelima, fasilitasi atas ketidakmampuan yang diakibatkan oleh kendala teknis maupun teoritis dalam melakukan penelitian, hal ini biasanya dapat diikuti dengan semacam pelaksanaan workshop maupun klinik untuk pengembangan potensi ketrampilan sivitas dalam meneliti.

  1. Nikmatnya Meneliti

Jika para dosen telah sering proposalnya lolos di dikti, maka pasti akan merasakan nikmatnya penelitian. Tentu tidak hanya nikmatnya merasakan updating keilmuan yang dimiliki atas hasil penelitiannya, namun disamping itu pasti akan merasakan pula nikmatnya honor dan kesejahteraan yang didapat dari dana penelitian yang dimenangkannya. Mungkin para dosen justru akan segan untuk banyak-banyakan SKS mengajar, tapi akan lebih memilih proporsionalitas dalam melakukan tugas-tugas tridharma dalam satu posisi yang imbang pada tiap komponennya. Mungkin, mengajar hanya 6 sks, selebihnya yang 6 sks lagi dipakai untuk penelitian dan pengabdian masyarakat. Bagaimana tidak nikmat, karena hibah penelitian ada yang berniliai 500 juta per proposal, 250 juta per proposal, 50 juta per proposal, sampai yang 10 juta per proposal.

  1. Meneliti dan Update Ilmu Pengetahuan

Kegiatan tridharma adalah satu kesatuan, tidak ada yang lebih tinggi satu komponen disbanding komponen lainnya. Di sisi lain, kegiatan pengajaran harus dilaksanakan secara dinamis dengan memperhatikan kesesuaian materi yang disampaikan dengan kondisi perubahan masyarakat, lingkungan dan perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Hampir dapat dapat dipastikan, dosen yang tidak pernah melakukan penelitian berarti sama saja tidak pernah berusaha untuk menguji ilmu pengetahuan yang disampaikannya ke mahasiswa melalui proses meneliti. Akibatnya, dapat dibayangkan bahwa perkuliahan menjadi monoton. Materi dua-tiga tahun sebelumnya akan sama dengan dua-tiga tahun ke depannya. Ini sangat merugikan mahasiswa dan membosankan peserta kuliah.

  1. Dosen yang tidak bisa meneliti tidak berhak membimbing Skripsi

Kata Pak Direktur DP2M, “Dosen yang main coret sana sini tapi tak pernah ngajukan penelitian, itu sama saja seenaknya sendiri. Belum tentu, walau ia main coret sana sini pada proposal mahasiswa bimbingannya, ketika mengajukan proposal penelitian ke Dikti langsung lolos”. Oleh karenanya, secara moral mestinya tidak berhak membimbing mahasiswa. Karena dirinya sendiri juga tidak pernah meneliti. Kalau sudah tidak bisa meneliti, maka kuliah lagi itu lebih baik, agar biasa meneliti.

  1. Menyayangkan dosen ngobyek

Dosen ngobyek (atau ngojek?) berate belum dapat mendudukkan tridharma dalam satu kesatuan utuh. Karena ia hanya mengejar satu aspek, pengajaran, sedangkan yang lain ditinggalkan atau minimal dikesampingkan. Akibatnya yang ada adalah banter-banteran jatah sks mengajar atau mengajar di banyak tempat. Akibat lanjutannya adalah kesempatan dan waktu untuk penelitian menjadi terkesampingkan, karena waktunya lebih banyak digunakan untuk mengajar. Padahal dosen yang aktif meneliti, hampir pasti tingkat kesejahteraannya akan lebih baik dari dosen yang tidak punya pengalaman meneliti.

  1. Semua Komponen perguruan tinggi punya mainan sendiri-sendiri

Dikti telah membuat program semua komponen sivitas mempunyai tugas (mainan) sendiri-sendiri. Antara satu dengan lainnya seharusnya bisa berjalan bersama-sama, tidak boleh saling mengintervensi namun harus saling bersinergi, berjalan seiring untuk mensukseskan programnya masing-masing. Institusi, punya tugas untuk membesarkan kapasitas dan kualitas kelembagaan. Para pimpinan perguruan dalam hal ini harus berjuang mendapatkan hibah-hibah bersaing macam PHK A1, PHK A2, PHK Institusi atau hibah-hibah lain yang berbasiskan pengembangan kelembagaan (institusi). Dosen, punya tugas tersendiri. Misalnya dengan program penelitian dan pengabdian masyarakat, yang keduanya didanai oleh dikti. Tentu untuk mendapatkannya harus bersaing dengan banyak perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Memang untuk lolos perlu ketrampilan dan kesuangguhan, namun bila dibanding dengan hasilnya bila lolos, pasti tiap dosen manapun akan merasakan nikmatnya. Mahasiswa, juga punya program yang didanai dikti, baik itu penelitian mahasiswa, kreatifitas mahasiswa maupun program lain yang juga dapat dipakai mahasiswa untuk ajang belajar menjadi peneliti dan tentu hasilnya dapat dipakai untuk biaya kuliah. Tidak hanya mahasiswa, bahkan untuk alumni sekalipun Dikti masih mempunyai program untuk mereka.

  1. Pentingnya Jurnal Penelitian

Jurnal penelitian amatlah penting dalam rangka untuk menyebarluaskan hasil hasil penelitian, menampung pemikiran-pemikiran ilmiah dan juga untuk dipakai sebagai sarana dosen mendapatkan kum atas hasil penelitian yang telah dilakukannya.

  1. Pak Direktur Siap membantu

Alhamdulillah, tanpa diminta Pak Munir sebagai Direktur siap membantu jikalau ada kesulitan menulis proposal. DP2M siap membantu kapasitas dosen agar menjadi peneliti-peneliti andalan di masa yang akan datang. Kesiapan ini tentu tidak pada tempatnya untuk disia-siakan begitu saja. Do it and became a winner my friends!. Trimakasih Pak Direktur.

Previous articleAda Apa dengan Komersialisasi Pendidikan?
Next articleKabar Usai dari Thailand