Baru-baru ini, SMRC, lembaga survey besutan Saiful Mujani merilis beberapa hasil surveynya tentang pemilih milenial di pemilu 2019. Hari ini pula, Selasa 28/08/2018, sebagian rilis tersebut dimuat di kolom opini harian Kompas. Penulisnya, Direktur Eksekutif SMRC Djayadi Hanan. Dalam beberapa alinea opininya yang berjudul “Berebut Milenial” tersebut, lembaga survey besutan Ipunk –sebutan akrab kami bagi Saiful Mujani- ini menunjukkan beberapa data pemilih milenial di kedua kubu capres-cawapres. Menurut lembaga survey ini, setahun terakhir, pemilih milenial di kubu Jokowi-Ma’ruf Amin cenderung kuat berada di pedesaan. Sementara, di kubu Prabowo-Sandiaga Uno, basis dukungan pemilih milenial pasangan ini berada di perkotaan yang baru naik prosentasenya setahun ini. Dengan kenaikan pemilih milenial di kubu Prabowo-Sandiaga Uno ini, akibatnya, dukungan pemilih milenial terhadap kedua kubu ini cukup berimbang di kalangan perkotaan. Sehingga kemudian yang menjadi pekerjaan rumah kedua tim sukses capres-cawapres ini adalah bagaimana memperluas dukungan di wilayah yang masih lemah, dan mempertahankan dukungan di wilayah yang sudah kuat. Dengan demikian, Prabowo-Sandi harus lebih dekat dengan pemilih milenial perkotaan, dan lebih agresif di pemilih milenial pedesaan. Begitu juga sebaliknya bagi Jokowi-Ma’ruf Amin.

Siapa Pemilih Milenial?

Secara umum, pemilih milenial adalah mereka yang baru dewasa pada era milenium alias abad ke-21. Maka, pemilih milenial adalah mereka yang lahir di awal tahun 1980-an hingga awal 2000-an. Dalam pemilu 2019, milenial adalah mereka yang berumur kira-kira 17-38 tahun. Sementara dari proyeksi data yang dikeluarkan BPS pada 2010 menunjukkan bahwa pada 2019, pemilih milenial berada di 55-58 persen dari total pemilih. Artinya, setidaknya di 2019, pemilih milenial berada di angka 190 juta pemilih. Besarnya pemilih milenial ini kemudian menjadi tema khusus di isi kepala politisi elit partai Republik ini.

Dari sudut politik, usia pemilih mileneal bukanlah pintu masuk utama untuk menentukan preferensi bahkan kecenderungan perilaku politik mereka. Akan tetapi, yang menjadi pembeda generasi ini dengan generasi sebelumnya seperti generasi x dan baby boomers adalah bahwa hampir seluruh generasi milenial ini, terutama yang di bawah umur 30 tahun sudah melek dan pengguna aktif internet. Ini pintu masuk utama politisi mempengaruhi pilihan politik pemilih milenial dengan cara berkampanye di medsos. Kampanye ini dinilai sangat efektif menjaring suara milenial.

Terdapat beberapa penelitian mengenai generasi milenial. Hasil riset yang paling ektrim menunjukkan, generasi milenial adalah mereka yang cenderung narsistik dan self-centered yang hanya peduli pada urusan diri mereka sendiri. Namun, ada juga hasil riset yang lebih moderat yang menunjukkan bahwa generasi milenial adalah mereka yang lebih cocok dengan jadwal kerja yang flrksibel dan informal, serta suka dengan feedback dari rekan kerja, khususnya atasan mereka. Fokus kerja genasi ini lebih banyak pada nilai-nilai material dan eksternalistik seperti kekayaan (uang), fisik menawan, dan citra diri. Sehingga kemudian tidak mengherankan jika generasi ini lebih suka mengidolakan sosok yang secara fisik dan material (kekayaan) terlihat sukses.

Selain itu, milenial juga digambarkan sebagai generasi yang cenderung berpikiran terbuka, toleran terhadap minoritas, percaya diri, liberal, dan sangat doyan dengan cara hidup baru. Artinya, generasi ini diciptakan sebagai generasi yang terbiasa dengan pola hidup yang memiliki berubahan yang sangat cepat.

Pintu Masuk Politisi

Seiring dengan mengerucutnya pilihan politik di 2019 yang hanya bermuara pada dua kubu capres-cawapres, secara politik, preferensi politik pemilih milenial juga terbelah menjadi dua, dan itu jaraknya cukup jauh di antara keduanya.

Untuk lebih menyederhanakan pemetaan milenial ini, mari mengacu pada data BPS. Menurut BPS, milenial secara sederhana dapat dibagi menjadi dua, yakni milenial perkotaan dan milenial pedesaan. Meskipun berbeda pada sisi jumlah di antara keduanya, namun selisihnya hanya sedikit. Khusus untuk milenial pengguna internet aktif, menurut SMRC, pengguna aktif internet milenial pedesaan hanya berada di angka 27 persen. Sedangkan, lebih dari 50 persen milenial perkotaan telah aktif mengguanakan internet. Dengan demikian, sehingga wajar kemudian lembaga survey besutan Ipunk ini menyebut bahwa mayoritas pendukung milenial Prabowo-Sandi berada di perkotaan. Sementara sebaliknya, mayoritas pendukung milenial Jokowi-Ma’ruf Amin berada di pedesaan.

Dukungan besar milenial perkotaan terhadap pasangan Parabowo-Sandi ini terkait erat dengan ciri khas milenial yang melek terhadap arus informasi dna tidak jarang dari mereka yang mampu menyaring arus deras tersebut. Lantas mengapa dukungan milenial ini menguat terhadap Prabowo-Sandi? Terhadap pertanyaan ini, setidaknya ada dua jawaban yang pas.

Pertama, isu politik dapat disajikan dengan mudah dengan sudut pandang yang negatif di dunia internet. Karena Jokowi adalah capres petahana dan sedang berkuasa, maka seluruh arus isu politik negatif dapat dengan mudahnya disiramkan ke muka Jokowi. Namun yang sangat disayangkan, hanya segelintir milenial yang mengerti hal ini yang kemudian dapat menyaring arus informasi politik negatif tersebut.

Kedua, pilihan Prabowo atas Sandiaga Uno dinilai sebagai pilihan yang tepat untuk menggaet pemilih milenial. Pasalnya, dengan umur yang masih kepala empat, Sandiaga yang juga memliki paras ganteng yang juga tajir ini adalah sosok idola yang diidam-idamkan pemilih milenial yang suka terhadap sosok yang muda namun kaya raya. Sandiaga, bagi milenial adalah sosok panutan. Seakan semua milenial harus menjadi seorang Sandiaga dalam menjalani masa hidupnya. Selain menargetkan milenial, dipilihnya Sandi juga disebut sebagai upaya menggaet pemilih perempuan, khususnya ibu-ibu. Sepertinya, citra ini yang tampak dalam alasan dipilihnya Sandiaga mendampingi Prabowo.

Seks dan Politik

Dengan dipilihnya Sandi mendampingi Prabowo karena ia adalah sosok yang diidamkan pemilih milenial dan pemilih perempuan khususnya ibu-ibu, maka kita harus kritis dengan pola dan alasan dipilihnya Sandiaga ini.

Beberapa jam sebelum dipilihnya Sandiaga mendampingi Prabowo, KH Ma’ruf Amin telah terpilih lebih dahulu mendampingi Jokowi. Dari sumber internal partai-partai koalisi pendukung Prabowo menyatakan, dipilihnya KH Ma’ruf Amin mendampingi Jokowi ini membuat gelisah koaisi pendukung Prabowo. Maka, solusinya adalah Prabowo harus didampingi sosok yang mewakili milenial dan idola para pemilih perempuan. Karena ketika sosok yang mendampingi Prabowo dari kalangan ulama juga, maka popularitas dan elektabilitas cawapres pendamping Prabowo ini pasti akan kalah dengan KH Ma’ruf Amin yang notebene paling senior dan berkharisma dari deretan ulama di kubu Prabowo.

Dari kedua pasangan cawapres, mari kita mengajukan pertanyaan. Mengapa pemilih harus memilih KH Ma’ruf Amin? Terhadap pertanyaan sederhana ini, saya pernah menanyakannya kepada salah satu mahasiswa dan tetangga perempuan saya yang sudah berkeluarga. Pertanyaan saya sederhana, seandainya keduanya memilih KH Ma’ruf Amin, apa alasannya. Spontan keduanya menjawab bahwa alasan dipilihnya sosok KH Ma’ruf Amin adalah karena dia adalah ulama, dan memiliki rekam jejak lama di bidang politik. Sementara terkait Sandiaga, saya juga mengajukan pertanyaan yang sama. Lalu keduanya berbeda jawaban. Si mahasiswa menjawab memilih Sandiaga karena ia masih muda, tampan dan sukses (kaya). Sementara, jawaban tetangga perempuan saya berbeda. Ia malah menjawabnya sambil tersenyum tersipu muka memerah lalu dengan senyum malunya ia menjawab memilih Sandi karena Sandi ganteng dan memiliki fisik yang menawan.

Kedua jawaban ini secara sederhana menunjukkan bahwa dengan dipilihnya Sandi oleh Prabowo dan partai koalisi, harapannya, Sandi dapat menggaet pemilih perempuan dan pemilih milenial. Selain itu, terhadap jawaban si mahasiswa, ia jelas mewakili semangat generasi milenialnya yang mengidolakan sosok yang muda dan sukses, seperti Sandi. Namun pada jawaban tetangga perempuan saya, ia sepertinya menggambarkan bahwa Sandi memiliki semacam kharisma yang dapat disamakan juga dengan daya seks appeal yang dimiliki perempuan terhadap pria, begitu pula sebaliknya. Daya ini lah yang kemudian seringkali membuat perempuan menjadi objeks seks pria, atau juga sebaliknya. Dalam konteks jawaban yang kedua ini, tentunya Sandi adalah objek seks tetangga perempuan saya yang kemudian menjadikannya preferensi pilihan politik sehingga memilih Sandiaga. Tentunya ini yang diinginkan oleh Prabowo terhadap seluruh pemilih perempuan pada pemilu 2019. Artinya, jika demikian, dalam memilih Sandiaga, pembisik Prabowo menggunakan pertimbangan-pertimbangan seksualitas. Pembisik Prabowo menjadikan Sandi komoditi seks yang dapat diperjual-belikan agar mendapatkan vote milenial dan pemilih perempuan di pemilu 2019.

Previous articleAHA Ajak Dosen-Dosen Hukum UNU dan PWNU Sumbar Sinergi dengan KPPU
Next articleMenggagas Kehadiran Al-Khidmah di Kampus sebagai salah satu Strategi Bela Negara; Pengalaman di Unisda Lamongan